Sunday, January 4, 2009

Jatuh Hati dengan Kampung Kauman

Sudah lama aku ingin ke kampung Kauman.Aku tertarik dengan kampung yang berada di sebelah barat alun-alun utara Yogyakarta ini sejak kekasih hati sering menyebut nama kampung tersebut,maklumlah,pada tahun 2002 kekasih hati sempat menjadi 'tuan tanah'di Kecamatan Gondomanan dimana kampung ini terletak.Namun sayang sungguh sayang,belum pernah sekalipun aku menginjakkan kaki disana meski rasa ingin itu sering menggelitik.


Keinginanku untuk bisa melihat kampung Kauman kembali menggebu sejak aku membaca sebuah buku yang mencantumkan nama kampung tersebut.Dan pucuk dicinta ulampun tiba,setelah sekian tahun memendam keinginan tiba-tiba bisa terwujud meskipun tanpa disengaja.Awalnya saat aku janjian dengan Tina,salah seorang teman muterku untuk bertemu.Di mobil kami sibuk mencari tempat untuk acara jalan kami siang ini dan tiba-tiba saja terucap nama kampung Kauman.Akhirnyaaaa....!


Maka meluncurlah kami ke sana.Ke sebuah pemukiman padat di Yogyakarta yang memiliki bangunan-bangunan kuno yang cantik.Bangunan rumah tua model Jawa yang atapnya banyak berbentuk limasan maupun joglo.Beberapa ada yang menunjukkan pengaruh arsitektur Eropa yang memiliki pintu serta jendela yang besar dan juga pengaruh Timur Tengah yang memiliki bentuk melengkung pada atas jendela.Kami turun di salah satu mulut gang dan mulai menyusuri jalan-jalan kecil di kampung ini.Tingkat hunian disini padat sekali,antara satu bangunan dan bangunan lainnya hampir tak ada jarak,berdempetan namun masih tak kelihatan sumpek.


Kauman sendiri sebenarnya dahulu adalah kampung dimana tinggal para abdi dalem Keraton yang mengurusi bidang agama Islam,maka tak heran disana pun terdapat masjid tua yang masih kokoh berdiri dan bisa dikatakan ini adalah kampung Islami.Sewaktu berada disanapun ada beberapa orang Ibu yang berpapasan dengan kami yang sepertinya akan menjalankan ibadah sholatnya di Masjid kalau dilihat dari mukena yang dikenakan. Kami jadi keasyikan mengklik-klik kamera dan beberapa kali harus melemparkan senyum kepada orang yang melintas karena kadang kami sama-sama jadi terdiam dan terhenti melakukan aktivitas kami.Ya,para pengguna jalan itu sering berhenti karena takut mengganggu acara kami memotret dan demikian juga kami yang jadi malu hati sendiri hehehe....



Jeng Tina di depan salah satu rumah Kauman

Meskipun ada beberapa pasang mata yang agak aneh
melihat kami mengambil beberapa gambar disana,ada pula yang dengan ramah malah menyilahkan kami untuk mengambil gambar dengan leluasa,seperti seorang Ibu yang berjualan makanan di depan rumahnya yang malah terus-terusan bilang,"Monggo,"ketika kami minta ijin untuk memotret dari teras rumahnya.Dan kuhitung beberapa kali pula kami meminta ijin ke penghuni disana untuk melancarkan aksi jeprat jepret kamera ini,"Permisi ya Bu..."atau"Boleh motret,Bu?" Ccckk...ckkkk...sedemikian antusiasnya ingin motret-motret,dan sedemikian antusiasnya pula warga Kauman menyilahkan kami,hehehe...


Gilaaaaaa.....meski panas matahari menyengat,kami tetap enjoy saja menyusuri sepanjang lorong maupun gang di Kauman.Semangat '45 sepertinya merasuki kami.Dan semakin kami 'kesasar' di tengah-tengah perkampungan yang padat hunian ini rasanya kok aku semakin jatuh hati dengan kampung Kauman ya?Bangunannya itu lho yang terus terang bikin aku jatuh cintrong.Meskipun ada beberapa bangunan rumah baru,namun tetap saja bangunan kuno yang mencuri hatiku..Dan aku berharap bangunan-bangunan tersebut akan tetap dilestarikan.



Ups,matahari sudah semakin di atas kepala,kami bergegas keluar dari kampung Kauman meski hatiku tetap tertambat disana.....

13 comments:

misteridigital said...

Aku bar rampung moco tertarik kata kotamadya, mosok isih ono kotamadya to jeng :D

Erik said...

Wah lagi di Jogya ya..
Aku juga sering denger nama kampung kauman. Tapi belum pernah ke sana.
Nama itu memang dah terkenal ya

JudithNatalia said...

Misteridigital:Weleh maass mosok nostalgia wae ra entuk,kembali ke sebelum UU Nomor 22 Tahun 1999 sebentar laaaah wakakakakk!Wis wis,daripada protes,ta ganti.

Erik:Iya mas...lha monggo kapan ke Yogya...

Budiawan Hutasoit said...

judith,
dimanapun, kapanpun, tetap ga bisa jauh2 dari acara muter2 dan klak-klik klak-klik..foto sana foto sini..hehehe

BloGendeng said...

kampung kauman? kalo di kotaku ada jalan atau daerah yang disebut "kauman", di blok sebelahnya ada lagi sebutan daerah disebut "tongan".

Lha si "tongan" ini ngetop ampe manca negara karena nama kerennya "Jerman",say. Alias "jejer kauman" hahahaa....

Milla Widia N said...

waaa indah nian je kampung kauman hehehe... unik-etnik-tradisional
aku pingin kesanaaaa

ika rahutami said...

dith... kamu salah waktu ke kauman itu. kauman asik banget nek pas puasa. full jajanan ramadhan. dan ini banyak yang udah nggak beredar lagi. jadi jangan lupa pas ramadhan ke kauman itu
nah yang harus dilengkapi adalah ke galgendu di kotagede. ini lebih eksotik

FATAMORGANA said...

mbak, kalo melihat hobinya muter2 gitu. Kenapa gak buat buku aja ttg kisah muter2 mbak?

JudithNatalia said...

Mas Budiawan:Tuull mas...kamera digital bututku adalah segalanya bagiku,cie cieee...

Blogendeng:Chaayy...berarti aku ra usah ke Jerman betulan yo,nang Mlg ono je!Hahaha!

Mbak Milla:Iya mbak...yukk mareee!

Mbak Ika:Iya tuh mbak,biasanya cuman mampir yang dipinggir2 jalan doang beli jajanan ramadhannya,gak sampe blusukan nang njero2 heheh...kotagede?pengen banget mbak,lain kali deh kesana kalo ada waktu :)Bareng mbak kali yaa :)

Mbak Fata: Mbak yang bikinin bukunya ya hihihi...nggak dink,ini kan blog buat iseng2 aja,nulis hobby ngluyurku mbak,gak se serius itu :)Thanks anyway mbak!

Lyla said...

hehe... aku cuma lewat2 aja di kampung kauman seringnya cuma jalan2 aja gak poto2 hehe..

Nyante Aza Lae said...

maen2 ke pasar kliti'an dong mbak...

-G- said...

Membaca ini, saya juga jadi pingin jalan2 ke Kampung Kauman, mbak fotonya bagus2 loh! (^_^)

-G- said...

Betewe, sy setuju loh sama Francis, hayoo mbak Judith bikin buku aja, pasti jadinya bagus loh..